Showing posts with label poem. Show all posts
Showing posts with label poem. Show all posts

Friday, June 19, 2015

Peluh membawa Jenuh


Tidak dapat terlambat, langkahnya cepat-cepat menuruni jembatan
Tidak dapat tali pengaman, bergantung pada himpitan manusia dalam suatu kubik
Tidak dapat terlihat sepatunya di balik garis aman stasiun kereta
Jalanan. Layar. Jalanan. 
Rindu akan langkah perlahan tapi pasti, tapak penuh cerita, tawa, udara asri
Rindu akan aman uluran tangan teman
Rindu akan sol tebal melewati bebatuan bergemericik air atau rumput kering sabana
Hutan. Belukar. Hutan.
Tidak semua peluh membawa jenuh
Tidak semua keluh berarti rapuh
Rindu perjalanan yang membuat hati utuh

Tuesday, June 16, 2015

Iced Latte

Hot, Cold, Double Espresso, Latte, or Frappe
People have for their own taste
Some just like the smell of it
Some just can’t take it
Taste, Preferences
Like it or not is your business
Not theirs
So if they’ve done something that pissed you off
Maybe is not about the wrong and who’s better off
Maybe its a sign that you just not get enough
Maybe you just have to chill off

Sunday, June 14, 2015

Vaginomics

(Puisi ini di buat terinspirasi dari pembuatan Paper Akhir Mata Kuliah Ekonomi Politik)

Bergelora seperti mawar yang terlukis pada dress yang dipakai
Merah Merekah
Menuntut bak potongan kain yang melilit badan
Rapuh tapi Ingin kuat
Seperti hak stilleto yang kecil menunjang luas penampang diatasnya.
Berteriak menuntut haknya.
Mulut kami juga berhak disuapi makanan.
Tetapi dibalik alasan perut, ternyata bertahan karena dikecewakan.
Hati yang Rapuh
Tetapi dibalik alasan perut, ternyata bertahan karena rantai uang melilit banyak pihak. 
Tetapi dibalik alasan perut, ternyata bertahan karena kepentingan segelintir orang berjas yang bermulut manis
Ah, Politik.

Saturday, June 13, 2015

Luar Dalam


Jalinanya Rapi
Jelujurnya Tepat
Padananya Pas
Kacamata Manusia
Yang Tampak
Lebih Indah
Sayang sayang
Perhatikan Dalamnya
Dekat Kulit
Rasakan Rasakan
Lembut kah?
Kasar kah?
Nyaman kah?
Bukan Jalinan
Bukan Jelujur
Bukan Padanan
Itu Penting
Tapi Rasa
Juga Penting

Friday, June 12, 2015

Bertahan Disana


Seperti dalam labirin, kehilangan arah.
Setiap persimpangan tak tentu ujungnya.
Setiap keputusan tak jelas muaranya.
Bukan benar salah, ada mungkin, bisa jadi, memutar dan berbagai kombinasi probabilitas lainya.
Ingin rasanya melihatnya dari kacamata mata langit.
Memilih jalan yang benar lalu keluar.
Lalu Keluar...
Lalu Apa?
Rasanya pasti tidak sepuas peluh yang mengitari persimpangan yang sama berulang
Rasanya pasti tidak sepuas geram yang hadir di persimpangan yang sulit
Rasanya pasti tidak sepuas rasa hidup dan bersahabat dalam diri yang hadir di setiap ujung keputusan
Rasanya pasti tidak se indah doa yang terbersit dan terlukis perlahan.
Rasanya aku tahu jawabanya.

Sunday, April 12, 2015

Perona Pipi

Semburat merah muda menjalari pori-pori pipinya
Bukan, bukan, ini bukan hasil reaksi kimia yang dapat diulas dengan kuas
Natural
Perlahan semakin merah kentara
Dadanya naik turun mengikuti irama degupnya
Napasnya pendek-pendek
Malu bertemu pemiliki bilik di hati?
Atau akibat perut yang melonjak seiring pop-up deret huruf favorit di kaca lcd?
Oh, rona itu dihiasi bulir-bulir berkilauan dari pelupuk
Oh, sesekali diselingi sesengukan
Rona ini dari nyeri mengikis perasaan
Perih Perona Pipi

Thursday, December 19, 2013

Hari Jumat Bersama Rangga dan Cinta

Dua minggu ini adalah minggu UAS. Lima mata kuliah sudah kulalui. Tinggal dua lagi kawan, selasa depan dan jumat depan. Sebelum itu, nikmati saja hadiah liburan kecil ini hahaha.

Cinta, tajuk yang tak akan lekang oleh waktu. Saya suka sekali film garapan Rudi Sujarwo ini, Ada Apa Dengan Cinta. Film yang saya rasa briliant di masanya. Jujur Pranoto juga menerjemahkan cerita dalam script dengan sangat indah. Didukung puisi oleh Rako Prijanto yang klasik.

Tentang Seseorang

Aku lari ke hutan, kemudian menyanyiku
Aku lari ke pantai, kemudian teriakku
Sepi-sepi dan sendiri
Aku benci


Aku ingin bingar,
Aku mau di pasar
Bosan Aku dengan penat,
Dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika Ku sendiri

Pecahkan saja gelasnya biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh,
Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih,
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya, biar terdera

Atau aku harus lari ke hutan belok ke pantai?
enyah saja kau pekat
seperti berjelaga jika kusendiri
bosan aku dengan penat


Aku Ingin Bersama Selamanya

Ketika tunas ini tumbuh,
serupa tubuh yang mengakar.
Setiap nafas yang terhembus adalah kata.
Angan, debur dan emosi bersatu dalam jubah berpautan.
Tangan kita terikat… Lidah kita menyatu…
Maka setiap apa yang terucap adalah sabda pendita ratu.
Hahhh... Di luar itu pasir… Di luar itu debu…
Hanya angin meniup saja lalu terbang hilang tak ada.
Tapi kita tetap menari, menari cuma kita yang tahu.
Jiwa ini tandu… Maka duduk saja…
Maka akan kita bawa ... Semua…
Karena kita adalah satu.

Ada Apa Dengan Cinta?

perempuan datang atas nama cinta
bunda pergi karna cinta
digenangi air racun jingga adalah wajahmu
seperti bulan lelap tidur di hatimu
yang berdinding kelam dan kedinginan

ada apa dengannya
meninggalkan hati untuk dicaci
lalu sekali ini aku melihat karya surga
dari mata seorang hawa

ada apa dengan cinta
tapi aku pasti akan kembali
dalam satu purnama
untuk mempertanyakan kembali cintanya.
bukan untuknya, bukan untuk siapa
tapi untukku
karena aku ingin kamu,itu saja.