Monday, March 28, 2016

Pemerhati Ketidakpedulian

Aku kagum pada masabodoh

Terkesima pada ahsudahlah

Terpesona pada lirikan sekelibat

Terperangah pada hati yang tak bergetar

Masabodoh yang peduli pada orang-orang terlupakan

Ahsudahlah yang membelai stigma

Lirikan sekelibat yang berbalik pada hitungan kedua

Hati yang tak bergetar bukan karena romantisme kasih tapi merasakan getir orang lain




Monday, December 28, 2015

Mengapa?



“Apa nikmatnya tersiksa membawa carrier di pundak? Dimana kamu dapat berbaring di rumah. Mengapa harus kesulitan bernapas saat menanjak? Disaat ac di rumah cukup dingin dan segar. Mengapa harus menggigil kedinginan? Dimana kasur empuk dan bed cover hangat ada di kamar”

“Karena disana aku belajar menyentuh bangunan yang bukan beton, menghirup bukan udara steril dari freon, mendengar suara dan tawa bukan emoji, terkesima bukan oleh layar tetapi apa yang terlukis di langit dan tumbuh di bumi, karena disana aku bisa mengenal hati dan luka, mengenal ego dan rela. Aku belajar menikmati yang biasa dan bersyukur atas yang biasa kepada-Nya”

“Ngutip dari pujangga mana tuh?”

“Sudahlah, mungkin memang kau tak akan paham".


Saturday, December 26, 2015

Vulnerable


Behind the first step entering the hall
Behind the shuttering "I love you"
Behind the first word in a speech
Behind the exhale after listening to doctor's judgement
Behind the tears of losing
Behind the fear, worry, and shame

Embrace it
You're imperfect, and you're wired for struggle, but you're worthy of love and belonging.

Thursday, September 24, 2015

New Normal

Why you do the work that you don't want to do?

Pertanyaan tersebut menggantung di nefron otak berhari hari lalu. Sebenarnya sudah lama saya merasa dalam masa pencarian dan menemukan hal-hal yang saya senang lakukan dan hal-hal yang tidak senang saya lakukan. Dalam kepala muncul berbagai kutub ekstrim: apakah saya harus berhenti melakukan yang saya lakukan ini? mengapa saya bisa memilih ini? atau mengapa saya tidak melakukanya lebih awal? Saya berbagi keluh ini dengan beberapa sahabat dan tentu saja ibu saya. Sebelumnya saat saya merenunginya sendiri terasa semakin runyam. Namun setelah berbagi kisah dengan orang-orang tersebut terlebih yang lebih senior, ternyata itu memang menjadi fase dalam hidup.

Memang hampir semua orang melewati fase pencarian, tetapi apakah semua orang mengejar apa yang ingin mereka lakukan? Jawabanya tergantung diri masing-masing. Ada banyak hal yang diluar kontrol kita contohnya resesi dunia, naik turunya harga saham, atau kapan radang datang menyerang tenggorokan. Tetapi banyak hal yang masih bisa kita kontrol, seperti memilih ingin melakukan apa dalam hidupnya. 

Beberapa hal saya dulu lakukan karena saya merasa harus melakukanya. Definisi harus tersebut yang harus ditinjau ulang. Apakah harus ini muncul akibat akumulasi dari persuasi orang-orang? Ataukah harus ini dari diri sendiri a.k.a keinginan diri untuk menuangkan diri sepenuhnya disitu. Akan tetapi seluruh pengalaman itu penting. Pengalaman-pengalaman memberikan kesempatan bagi diri untuk mencicipi hal-hal baik yang disuka maupun tidak. Pengalaman memberikan kesempatan untuk menjadi self-expert dan untuk tau unique strength kita. 

Selain hal-hal yang dilakukan, hal-hal yang tadinya tidak dilakukan akibat diri sendiri (telling ourselves can't do it or listening other ppl said can't do it) dan kini dilakukan seperti accomplishment. You don't have to be fastest marathon runner just your own impossibilities to accomplish. 

Selain mastering ourselves and experience, terakhir adalah surround yourself with ppl that you want to be. Saya baru benar-benar memahami kalimat tersebut. Saya pernah dalam fase merasa sangat dikecewakan dengan hidup dan seorang sahabat berkata : detached. Dan dengan begitu saya bisa lebih bisa lapang dada dalam menerima yang telah terjadi. Namun bukan hanya lingkungan, peran diri sendiri untuk belajar memfilter dari lingkungan juga sangat penting. Saya ingat saat menentukan antara masuk sekolah negeri atau swasta ibu saya berkata bahwa saya harus melihat realita dunia. Saya harus melihat dua sisi mata koin. Saya harus melihat yang rajin dan yang bebal. Saya harus melihat ada orang yang berkecukupan dan ada yang harus susah payah untuk makan. Terakhir teman-teman serta tempat saya pernah menuangkan diri saya didalamnya membuat saya belajar tentang diri saya dan membentuk diri saya seperti sekarang. 

Making the new normal to yourself isn't an easy part. But it worth it because just like Warren Buffet said "taking jobs to build up your resume is like saving up sex for old ages". Tulisan ini terinspirasi dari TED Talks by Scott Dinsmore. Adding up to his amazing speech is you need a plan. You need a plan to keep your vision and know when you off-track.

PS Scott Dinsmore had passed away when climbing Kilimanjaro. He proves that until the last time he lived every single moment of his life for himself.

Tuesday, August 18, 2015

Ubud.


Biru dengan semburat putih berhias sisa sisa gemerlap galungan dan kuningan
Aroma dupa dan canang melekat pada molekul oksigen
Merasuk pada paru-paru, hati yang terasa penuh namun ringan
Pada embun mengalun diatas daun
Pada biru langit dan dingin pagi menggigit
Pada jingga senja
Pada kuning dan merah muda kamboja
Pada kerharmonisan Tri Hita Karana
Pada bangunan dengan prinsip palemahan
Pada kamis romantis
Luka hati terkiskis
Lahir kenangan manis.

Monday, August 3, 2015

Usia, Memori, dan Kenangan



Hari ini Aldine genap berusia 15 tahun. Siang ini di  di kantor ada birthday lunch salah satu senior yang bertambah usia. Namun di hari ini pula aku mendengar kabar duka dari seorang sahabat.

Memori membawaku ke suatu pagi dimana aku melihat buku terbaru Harry Potter diatas meja belajar. Memori membawaku ke suatu hari di sekolah penuh dengan teman, hadiah, dan kebahagiaan. Memori juga membawaku ke suatu pagi bersama sahabat-sahabat hati yang berusaha memberi kejutan.

Namun memori juga membawaku ke kenangan lain..

Aku teringat masa masa dimana aku menemani nenekku di rumah sakit seusai sekolah. Masa-masa dimana aku mengelap kulitnya yang berkerut dimakan usia. Masa-masa dimana aku ingat tangan itu yang mengajariku membedakan bumbu-bumbu dapur, membersihkan rumah, tangan yang mengayomi ibu, bayi, dan lansia di sekitar rumah kami.

Aku teringat masa masa dimana aku menyuapi kakekku di rumah. Kurus, kering, keriput. Pernah ada masa dimana badan itu pernah tinggi tegap mengantarku ke sekolah, setia dengan vespanya. Mengajariku naik sepeda. Mengajariku bermain biola. Mengajariku bahasa jawa. Menyembuhkan luka kaki hingga luka hati.

Sejauh memori bisa membawaku, banyak kenangan kenangan yang muncul. Kenangan indah, juga kenangan pahit dan menyakitkan. Semua melebur jadi suatu paket usia yang tuhan berikan. 

Bertambah usia, bertambah pula memori dan kenangan. Hingga akhirnya habislah paket usia yang tuhan berikan. Perpisahan pasti ada namun kenangan tetap ada. Memori hadir membawa kenangan tersebut agar terjalin doa kepada yang disana. Seperti doa bertambahnya usia agar ditambah hal-hal baik. Doa bagi yang dipisahkan oleh usia juga berharap agar disana mendapat tempat dan kehidupan yang baik.


Selamat ulang tahun dan selamat jalan.

Friday, July 17, 2015

Doa.


Kata orang cara mencintai paling indah adalah dengan mendoakan. Selama ini saya pikir itu sedikit menyedihkan. Seperti memberi tanpa meminta apresiasi. Seperti anonim cengeng surat kaleng. Entah rendah hati atau rendah diri. 
Tetapi hari ini saya akui saya salah. Mendoakan bukan saja cara mencintai paling indah, tetapi juga paling mudah, universal, bebas, you name it. Doa tidak dibatasi waktu dan ruang serta dimensi. Tidak peduli jenis kelamin, agama, usia, dan norma. Bayangkan seorang ayah yang tidak dapat lagi bicara karena stroke masih dapat mendoakan anaknya. Sesama jenis dapat saling mendoakan tanpa perlu ribut apa kata orang. Seorang anak yang kehilangan ibunya masih bisa mendoakanya. Seorang bisu tetap bisa berkata-kata. Seorang yang beragama hindu dapat mendoakan orang-orang di Gaza. Seseorang dalam diam menyimpan rasa, masih bisa mencinta.