Saturday, July 12, 2014

Dark Knight


I am not a batman-die-hard-fan, but I just watched The Dark Knight and it was worth-to-watch movies. I don’t remember whether I stopped watching because of batman begins or batman returns. The reason is because I think Batman Production decreasing. I’m not a type person who not watch because someone says it’s not good. I have to experience it by myself to build up opinion.
I did wrong to stop watching Batman. The Dark Knight really made my mind that you have to experienced it by yourself, not listen to others and not assume. Hahaha lesson learned huh? So anyone who look a movie to watch I recommend this one. (Even you never watch batman before, you’ll enjoy it).


Thursday, May 15, 2014

Melbourne Post Effect



Long time not reading fiction. I keep my nose on book whenever i have idle time. Its good to let yourself happy by doing things you like. Its good to be focused on something rather than multitasking. Its good to have new perspective. Its good to be reminded about dreams and passion when i suck at routine and lot of workload. Even its good to take a lecture notes in class, doing good at presentation, and work on academic assignments.

My Current Obsession : Dérive, Music, Old Fiction Books, Indonesian Landscape, Movies, and Foods.

Saturday, May 10, 2014

Kisah Seorang Gadis

Sesengukan. Malam itu ia menangis sendiri di kamarnya. Menangis tanpa memperdulikan untuk melegakan hatinya. Sudah lama ia tak menangis. Bukan berarti sudah lama ia tak sedih atau terluka. Akan tetapi gadis itu tumbuh menguatkan dirinya. Semakin berusaha ia menguatkan diri, semakin jarang air mata membasahi wajahnya.
Setiap hari ia memasang senyum itu. Senyum ikhlas, bahagia. “Iya” selalu terucap saat orang lain meminta bantuan. Bukan karena ia mau diperalat. Karena ia memposisikan dirinya pada orang yang meinta bantuan. Selama ia bisa. Ia akan lakukan. Naif, memang. Akan tetapi ia hanya ingin berarti buat orang lain. Orang lain, ah, gadis itu memang terlewat sering mendahulukan orang lain. Akan kuceritakan kisah tentang gadis ini. Kupikir ini akan sedikit menyedihkan.
Ia tumbuh di keluarga yang sederhana. Tidak sederhana tetapi juga tidak kaya. Iya tidak masalah dengan itu. Ia tidak mengeluh harus pulang menggunakan bus disaat teman-temanya di jemput. Ia tidak keberatan basah kuyup disaat teman-temanya naik mobil. Ia tidak masalah tidak menggunakan barang branded atau pun yang sedang “in”. Bukan, ini bukan soal materil.
Tumbuhlah ia menjadi seorang gadis remaja. Gadis remaja yang mulai sibuk dengan teman dan kegiatanya. Akan tetapi disaat gadis seusianya mulai percaya cinta. Ia melihat realita cinta yang lain. Ia melihat bagaimana manusia yang hidup bertahun-tahun atas nama cinta bisa berkhianat. Dengan sahabat pasanganya. Kemudian ia melihat sisi yang terluka pelan-pelan tergerus sakit akibat memendam rasa sakit kemudan akhirnya pergi. Bahkan sisi yang berkhianat tidak seperti yang dalam kisah-kisah di novel dan film, tidak sisi itu bahkan pergi di hari berikutnya. Kejam? Seperti sinetron? Ini realita yang gadis itu hadapi. Selesai? Belum ia masih melihat banyak sisi dari cinta.
Ia melihat yang namanya pengkhianatan cinta yang lain. Ia melihat dan di jejali keburukan-keburukan dari tiap sisi. Yang satu berteriak pengkhianat. Yang satu berteriak tidak beratnggung jawab. Aku kasian akan gadis itu. Aku heran, para orang dewasa itu tidak memikirkan dampak dari apa yang mereka perbuat. Mereka tidak tahu mereka merusak atau menggerogoti relung hati gadis itu. Tetapi di tengah kondisi tersebut gadis itu masih memikirkan orang lain, yaitu adiknya. Ia tidak ingin hati adiknya keras seperti dirinya. Ia tidak ingin adiknya membentengi dirinya seperti yang ia lakukan, ia tidak ingin adiknya terluka. Ia kakak yang baik. Ia ingin yang terbaik bagi adiknya. Baik? Terlalu baik? Aku pikir gadis ini agak menyedihkan.
Ia susah untuk memberikan hatinya. Disaat ia mencoba membukanya, orang yang ia inginkan adalah milik orang lain. Tidak, gadis itu tidak berusaha merebut. Bahkan disaat ia bisa merebutnya ia teringat pengalamanya. Bayang bayang itu. Ia tidak mau menjadi perusak hubungan. Ia tidak mau menajdi orang ketiga. Ia tau sakit sisi yang terluka nantinya. Ia membatasi dirinya. Ia mengaburkan perasaan.
Akan tetapi kali ini, terjadi untuk ketiga kalinya. Kisah ketiga ini agak lain dari biasanya. Karena teman dari gadis ini ikut jatuh hati pada lelaki itu. Padahal ia tahu temanya sendiri masih meladeni lelaki lain. Luar biasa bukan? Gadis itu tidak membenci orang-orang yang menunjukkan realitas di balik kata cinta. Sebagai gantinya gadis itu hilang kepercayaan atas cinta.

Aku rasa gadis itu sangat menyedihkan. Aku tahu yang ia butuhkan adalah seseorang yang bisa memeluknya atau setidaknya menggenggam tanganya seraya menguatkannya. Ia hanya ingin melihat sisi lain dari kata cinta seperti yang tertuang dalam kertas novel maupun dalam film. 

Sunday, March 30, 2014

So what is there to realize?

Peonies bloom on peony trees.
A cat doesn’t become a chicken.
Tulips are tulips, not roses.
Why can’t we realize this true fact?
That to be me is great.
I don’t have to be anyone but me.
I am blooming as I am in my life, just as a peony blooms on a peony tree.
Further, a beautiful peony flower does not worry about when it will wilt and fall to the ground.
It does not compete with the flower next to it;
rather it blooms with its whole self.


-- Sensei Ogui from "Zen Shin Talks"

Friday, February 28, 2014

Imperfect is beauty

I think perfection is ugly. Somewhere in the things human make, I want to see scars, failure, disorder, disortion. - Yohji Yamamoto

Saturday, February 15, 2014

Shattered Glass

Like a life or relationship, you don't need something entertaining, you just need the real one. Not Fabricated. Great movies, based on true story.

Monday, February 3, 2014

19th on 19th

Saya merasa bersyukur, sangat bersyukur menginjak usia kesembilan belas ini. Banyak hal yang terjadi dalam hidup saya dan saya belajar dari setiap momen yang bergulir. Baru saya sadari kehidupan ini sungguh singkat. Rasanya baru kemarin saya mengenakan seragam merah putih dan menangis malu karena terlambat. Rasanya baru kemarin saya mengenakan seragam biru putih berlari mengelilingi sekolah karena terlambat beberapa menit. Rasanya baru kemarin saya mengenakan seragam abu-abu putih dan tidak tahu malu masuk lewat gerbang samping karena terlambat satu jam.

Baik, buruk, hitam, putih, dan abu-abu adalah bagian dari setiap momen yang berlangsung. Masih banyak hal yang ingin saya raih. Dunia juga sepertinya berlari, sementara saya masih berusaha mengatur napas sambil terus mengejar, mencari ritme agar bisa mengimbanginya. Beberapa hal penting yang menjadi refleksi saya di usia 19 ini adalah saya menyadari bahwa hidup itu terlalu singkat untuk tidak di jalani sesuai passion. Saya belajar untuk mencari apa sebenarnya passion saya diri saya. Buku, teman, dan perjalanan membawa saya kepada pemahaman-pemahaman baru. Hingga akhirnya saya merasa saya sudah di jalan yang tepat. Allah sudah memberikan saya jalan yang tepat, hanya saja baru saya sadari. Kadang mungkin masih terasa lahan lain tampak lebih hijau. Tetapi sama seperti memilih pasangan, jika kita sudah memilih kemudian ada yang lain yang dirasa lebih, itu hanya sepertinya saja karena segala sesuatu pasti ada kekuranganya (kecuali Allah). Jadi sudahlah setia saja pada jalanya masing-masing haha.

Pemahaman yang kedua adalah keadaan tidak pernah salah. Saya selama ini seringkali menyalahkan keadaan. Sangat sering. Padahal saat saya introspeksi lagi pilihan sayalah yang terkadang salah. Saya cenderung untuk tidak memilih karena takut salah. Sehingga saya terjebak dan kebingungan. Sekarang saya menyadari memilih adalah jalan hidup yang berani. Apapun konsekuensinya adalah bonus kehidupan. Saya semakin yakin Allah selalu memberi yang terbaik. Saya malu ada saat-saat dimana saya meragukan itu ada saat-saat dimana saya menyepelekan-Nya.

Pemahaman yang ketiga adalah Less is More. Inilah “mantra” yang saya pikir cukup kuat menggantung di kepala saya. Saya harap setiap ada hambatan di depan saya ingat mantra ini. Keterbatasan itu membuat kita lebih baik dan merasa cukup. Kadang tidak mudah memang menjalankan mantra ini tetapi jika kita melapangkan dada, mengingat mantra ini dan Allah maka semua akan terasa cukup dan apapun bisa di lalui.


Saya harap di usia kesembilan belas saya bisa lebih mencintai dan menghargai keluarga dan juga teman-teman yang selama ini selalu ada dan peduli. Saya harus menguatkan diri saya menjalani apapun untuk meraih target and purpose in life. Godaan pasti ada di jalan tetapi saya harap saya cukup dewasa untuk tahu mana yang lebih baik untuk hidup saya. Akhir kata saya ingin berkata untuk Hana Rakhma Arimbi “Selamat menginjak usia ke-19, Hana Rakhma Arimbi. Masa lalu adalah pelajaran termahal. Sedangkan masa depan adalah peer yang harus kamu kerjakan. Hingga nantinya saat kamu bertemu Sang Khalik kamu bisa menunjukkan buku peermu dengan senyum. Entah berapa halaman lagi buku peermu ini. Entah soal apalagi yang ada di halaman selanjutnya. Apakah mudah atau susah? Hanya yang menciptakanlah yang mengetahui. Aku harap kamu tekun menyelesaikan tiap soal. Ada kalanya soal itu menjebak, menyenangkan, ataupun membuatmu hampir gila menyelesaikanya. Akan tetapi buku peermu ini didesain khusus untukmu. Hanya kamu yang bisa menyelesaikannya. Jadi tetap semangat Hana! Isi buku peermu semaksimal mungkin. Kamu memang tidak mungkin menyelesaikan semua soal, tetapi jika kamu berusaha semaksimal mungkin, tidak ada yang sia-sia. Aku sayang kamu, maaf selama ini suka makan indomie dan jajan sembarangan bahkan melukai jiwamu dengan tidak jujur terhadap diri sendiri. Selamat membuka halaman selanjutnya, Han!”