Monday, October 23, 2017

Bagaimana Seninmu?

Senin temanku adalah hari dimana dia berjibaku berdesakan di angkutan kota pada pagi buta yang mana tak pernah ia lakukan pada hari sebelumnya dan hari sebelumnya.
Seninnya adalah hari dimana dia gugup meski kemeja necis dan rambut klimis yang hanya bertahan tidak sampai jam makan siang habis.

Senin temanku yang lain lagi adalah hari dimana dia kecewa akan dirinya sendiri.
Seninnya adalah hari ia dimakan ego perfeksionis yang menggemakan sesuatu yang kecil.
Seninnya adalah hari dimana dia lupa bahwa sesuatu yang kecil biarlah tetap kecil.

lain lagi dengan temanku yang lain

Senin temanku adalah hari dimana dia bahagia karena sebuah pesan singkat yang diterjemahkan menjadi sebuah roman berseri.
Seninnya adalah hari dimana matanya berbinar meski tumpukan pekerjaan belum kelar.

Seninku? Ah sudahlah, bagaimana jika kita membahas seninmu?

Wednesday, May 10, 2017

Gemerlap Mayoritas

Akhir-akhir ini terasa besarnya gelombang ke-aku-an dan/atau ke-kamu-an dan/atau ke-kami-an.
Jarang Saya mendengar tentang kita.
Ke-aku-an yang angkuh, mendongak, berlenggak-lenggok berlindung di bawah payung mayoritas.
Ke-kamu-an yang menuding, dengan hati dan pikiran yang ukurannya sangat sempit hingga kurang napas juga keras layaknya karas.
Ke-kami-an yang tinggi menjulang menjadi tebing pembatas seolah olah setiap pilihan, setiap bentuk dan rupa hanya ada dua sisi, hanya ada bi-, hanya ada antonim.
Saya ingin mencicipi minoritas. Tapi Saya takut tak sanggup menahan keras.
Dihujani ke-aku-an.
Dibombardir ke-kamu-an.
Ditelanjangi oleh ke-kami-an.
Merayakan dalam kesunyian. Merayakan dalam ketidakpedulian atau malah cibiran. Berucap berujung bekap.
Ah mayoritas, jika dunia bi- itu terbalik untuk satu hari saja....apakah gemerlap itu akan masih ada?

Thursday, June 30, 2016

It has an end.


Here is the thing, we all facing the end.

I've seen enough old and lonely soul, being hurt and full of regret.
I remember exactly the betrayed heart, a smile of strength, warm heart even tortured again and again
Until the last, all I remember are bigger love, loyalty, and strength. 
I remember exactly the anger, the cruel word, those heart-breaking cold night.
Now turn into helpless Sometimes crying over his past. Or maybe he is frustrated with his current condition.

Hurting, Being hurt.
Betray. Betrayed.
Lies. More lies.
Ego. Bigger Ego.
Anger. Louder anger.

At the end isn't about which side better. Isn't about blame the other side.
It's about accepting the ugly truth that everyone has their ego.
At the end, it's how you handle it that matters.
At the end, it's how you getting trough those difficult time that won't betray.

For those who facing hard times, it has an end.

Sunday, May 15, 2016

(ke)Manusia(an) Penting

rindu savana dan buih ombak


Spesies ini bisa ditemukan di antrian kofisyop terdekat
atau dijalan dengan langkah tergesa
atau coba cari nada suara yang meningkat dengan mata berkilat
yang mungkin lupa caranya tersenyum dan memberi terimakasih kepada sesama
yang mungkin tidak tahu beda antara menatap dan melihat
yang memberi rafinasi pada kata-kata untuk menutupi cela

Sobat,
mungkin kau salah mengartikan "Pembeli adalah Raja"
tata krama itu melekat pada ningrat
kepercayaan orang lain itu yang menumbuhkan kuasa
sopan santun itu yang membuahkan rasa hormat
dan yang terpenting, luka tidak mudah terlupa.


Monday, March 28, 2016

Pemerhati Ketidakpedulian

Aku kagum pada masabodoh

Terkesima pada ahsudahlah

Terpesona pada lirikan sekelibat

Terperangah pada hati yang tak bergetar

Masabodoh yang peduli pada orang-orang terlupakan

Ahsudahlah yang membelai stigma

Lirikan sekelibat yang berbalik pada hitungan kedua

Hati yang tak bergetar bukan karena romantisme kasih tapi merasakan getir orang lain




Monday, December 28, 2015

Mengapa?



“Apa nikmatnya tersiksa membawa carrier di pundak? Dimana kamu dapat berbaring di rumah. Mengapa harus kesulitan bernapas saat menanjak? Disaat ac di rumah cukup dingin dan segar. Mengapa harus menggigil kedinginan? Dimana kasur empuk dan bed cover hangat ada di kamar”

“Karena disana aku belajar menyentuh bangunan yang bukan beton, menghirup bukan udara steril dari freon, mendengar suara dan tawa bukan emoji, terkesima bukan oleh layar tetapi apa yang terlukis di langit dan tumbuh di bumi, karena disana aku bisa mengenal hati dan luka, mengenal ego dan rela. Aku belajar menikmati yang biasa dan bersyukur atas yang biasa kepada-Nya”

“Ngutip dari pujangga mana tuh?”

“Sudahlah, mungkin memang kau tak akan paham".


Saturday, December 26, 2015

Vulnerable


Behind the first step entering the hall
Behind the shuttering "I love you"
Behind the first word in a speech
Behind the exhale after listening to doctor's judgement
Behind the tears of losing
Behind the fear, worry, and shame

Embrace it
You're imperfect, and you're wired for struggle, but you're worthy of love and belonging.